Hidup
Sekilas bila mau kita melihat, bahwa hidup itu bagaikan roda yang berputar.
Dimana ada saatnya kita di bawah, ada saatnya pula kita di atas.
Ada pula yang menggambarkan hidup sebagai panggung sandiwara.
Dimana ada saatnya kita menangis dan ada saatnya kita tertawa.
Beraneka peran kita mainkan dan beraneka posisi kita tempati.
Hidup tak bisa hanya sendiri, banyak pihak yang kita butuhkan untuk hidup.
Teman, saudara, orangtua, sampai musuh sekalipun serta tak lupa akan Sang Pencipta.
Hidup adalah sebuah siklus, yang menghubungkan semuanya dalam diri.
Tanpa siklus, hidup tentunya menjadi tak berarti.
Ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang berkurang dan ada yang bertambah.
Ada yang menangis dan ada yang tertawa. Ada beruntung dan ada yang malang.
Semuanya itu menjadi goresan kenangan dalam buku kehidupan.
Kini terserah pada kita yang menjalani peranan hidup.
Apakah kita bisa memainkan peran yang cocok?
Apakah kita bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat?
Apakah kita bisa mencari partner yang sejalan?
Apakah kita sadar bahwa:
Perjumpaan akan diakhiri dengan perpisahan?
Kelahiran akan diakhiri dengan kematian?
Tangis pun bisa berubah menjadi tawa?
Kawan pun bisa menjadi lawan?
Semua itu bisa terjadi dalam sebuah siklus kehidupan.
Tetapi bukanlah hasil yang harus kita lihat.
Bukan pula keberadaan kita dalam siklus.
Melainkan pada proses yang terpenting:
Bagaimana kita bertindak dalam hidup.
Dari yang pernah, sedang dan akan ditinggalkan,
JN. Rony
20020717
yang sedang belajar semakin memahami diri.